Indeks Berita

Komitmen Baitul Mal Aceh untuk Pemberdayaan Umat

Kamis, 14 Desember 2017

BANDA ACEH– Sejak tahun 2006 Baitul Mal Aceh sudah merintis program pemberdayaan umat berbasis ekonomi produktif. Tidak kurang dari 1.500 mustahik pelaku usaha mikro telah mendapat bantuan modal usaha bergulir.

Program pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan produktifitas dan kemandirian mustahik dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak. Karena salah satu tujuan filantropi Islam adalah menghilangkan kesenjangan dan mewujudkan kesetaraan hidup tanpa ada perbedaan status sosial.

Program pemberdayaan berbasis ekonomi produktif dinilai sebagai cara yang paling efektif untuk mewujudkan harapan itu. Baitul Mal Aceh terus berkomitmen melakukan pemberdayaan kepada mustahik. Inovasi program pemberdayaan meliputi bantuan modal usaha, peralatan kerja baik berbasis individu maupun kelompok dan gampong.

Selama 3 tahun terakhir sudah 32 gampong di bina Baitul MalAceh menuju gampong produktif berbasis kearifan lokal. Gampong binaan Baitul Mal Aceh diarahkan untuk memiliki branding “one village one product” sebagai sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tahun 2017 sebanyak 491 mustahik telah menerima bantuan modal usaha bergulir dengan total dana Rp. 3,2 miliar dan 48 mustahik menerima bantuan alat kerja dengan total dana Rp. 150 juta yang disalurkan untuk pelaku usaha mikro yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sedangkan program kolektif sebanyak 10 Gampong untuk pemberdayaan ekonomi dengan total dana 500 juta yang disalurkan di wilayah Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Jaya dan Aceh Barat.

Berbagai macam usaha kecil masyarakat terus berkembang di bawah program pemberdayaan dari Baitul Mal Aceh. Produk yang dihasilkan juga sangat bervariasi diantaranya bahan pangan, makanan ringan, kue tradisonal, hasil pertanian, kerajinan tangan dan peternakan dengan omset usaha yang terus meningkat setiap tahun. tahun 2017 ini 86 orang mustahik binaan Baitul Mal Aceh telah bertransformasi menjadi muzakki. Artinya mereka yang dulunya berstatus mustahik (penerima zakat) dan kini telah tumbuh menjadi muzakki (pembayar zakat)(*).

 


Pengumuman Seleksi Administrasi Calon Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA)

Kamis, 07 Desember 2017 Pengumuman Seleksi Administrasi Calon Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA)

Baitul Mal Aceh Bantu 1.000 Santri se-Aceh

Rabu, 06 Desember 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) menyalurkan bantuan masing-masing Rp 1 juta kepada 1.000 santri miskin dari 127 dayag di seluruh Aceh. Bantuan bersumber dari dana zakat senif ibnu sabil ini sebesar Rp1 milyar ditransfer ke rekening santri sejak dua minggu terakhir.

Bantuan ini diharapkan dapat membantu santri dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani, Rabu (29/11) mengatakan dalam pendataan bantuan tersebut, pihaknya bekerjasama dengan Baitul Mal Kabupaten/kota serta dayah.

“Tim Baitul akan turun ke lapangan untuk memastikan apakah bantuan tersebut sudah diterima atau belum,”ujarnya.

Zamzami mengungkapkan masih banyak santri dayah yang membutuhkan bantuan dan pemberdayaan, harapannya jika yang bayar zakat semakin banyak, maka semakin banyak pula yang dapat dibantu.

Santri yang dibantu kali ini berasal dari 127 dayah salafi dan terpadu. Adapun dayah yang dibantu memiliki kriteria seperti: memiliki gedung, terdaftar di dinas dayah, berizin menyelenggarakan pendidikan dan memiliki santri yang tetap.[]


HARI INI, PEMKAB ABDYA UMUMKAN BEASISWA

Senin, 04 Desember 2017

-


PENGUMUMAN NOMINASI PEMENANG SAYEMBARA HIMNE ACEH

Sabtu, 02 Desember 2017 7 Nominasi Pemenang...

Bupati Hadiri Gerakan Tanam Penangkaran Benih TA 2017

Kamis, 30 November 2017

.


GURU MEMILIKI PERAN YANG AMAT MULIA

Senin, 27 November 2017

-


PEMBUKAAN MASA PERSIDANGAN V TAHUN 2017

Kamis, 23 November 2017 membahas 3 Rancangan Qanun Aceh...

Zakat Berdayakan Ummat

Senin, 20 November 2017

Oleh Sayed Muhammad Husen

Tema Rapat Kerja (Raker) Baitul Mal se Aceh tahun ini tentang “Zakat Berdayakan Ummat” pada 15-17 November 2017 menarik perhatian saya. Tema ini begitu penting untuk memberi perspektif baru pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) di Aceh. Selama ini pendistribusiannya lebih dominan bersifat konsumtif dan karitatif.

Raker yang diikuti para Kepala Baitul Mal Kab/Kota (BMK), Kepala Sekretariat BMK dan unsur Baitul Mal Aceh (BMA) mengupas tiga makalah kunci: Strategi dan Sinergi Pemerintah Aceh dalam Penanggulangan kemiskinan, Best Practice Baitul Mal dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Perspektif Syariah Pendayagunaan Zakat.

Satu rumusan keputusan Raker yang saya anggap terobosan baru pengelolaan ZISWAF di Aceh adalah kesepakatan penggunaan dana ZIS untuk program pengembangan masyarakat atau ZIS Community Development (ZIS-CD). Program ini diyakini dapat memperbesar kontribusi ZIS dalam penanggulangan kemiskinan.

Selama ini, Baitul Mal telah mendayagunakan ZIS yang dianggap berdampak secara langsung atau tidak terhadap penurunan angka kemiskinan melalui beberapa kegiatan seperti pelatihan/kursus keterampilan, penyediaan peralatan kerja, pembangunan/rehab rumah fakir miskin, penyediaan modal usaha tanpa bunga, beasiswa, dan kegiatan lainnya.

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan oleh Baitul Mal terus ditingkatkan dengan pendekatan sinergis dalam hal basis data dan koordinasi dengan instansi terkait. Demikian juga perlu dipastikan pengukuran berapa persen kontribusi ZIS terhadap penurunan kemiskinan di Aceh. BMA menargetkan kontribusi  ZIS 10% dari target Pemerintah Aceh.

Saya berkeyakinan, Pemerintah Aceh (baca: Bappeda) akan memperkuat peran Baitul Mal dalam penanggulangan kemiskinan, mengingat potensi ZIS yang cukup besar. Dari potensi zakat Aceh Rp1,4 triliun, Baitul Mal telah menghimpun hampir Rp300 miliar setahun. Angka ini masih dapat ditambah dengan penyetoran zakat yang belum terdata dan dibayar masing-masing muzakki.

Dari arena Raker Baitul Mal baru-baru ini, saya merasakan tantangannya juga cukup berat. Secara internal pengurus Baitul Mal masih mengandalkan pendistribusian ZIS secara konsumtif dan karitatif. Persentase program dan kegiaan ZIS yang bersifat pemberdayaan dan produktif masih cukup kecil.

Tantangan  eksternal datang dari masyarakat yang juga lebih mengharapkan disalurkan secara tradisional. Berapapun ZIS yang terkumpul habis seluruhnya dibagi-bagi dalam bentuk konsumtif dan karitatif. Hampir tak ada bagian untuk pemberdayaan ekonomi dan pengembangan masyarakat. Belum bagus juga sinergi antar instansi terkait.

Untuk itu, menindaklanjuti keputusan Raker masih perlu dilakukan edukasi syariah tentang ZIS produktif dan ZIS-CD.  Pengurus Baitul Mal seluruhnya perlu mendapatkan landasan syariah yang kuat bahwa ZIS dapat digunakan untuk penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas. Dengan cara ini ZIS akan lebih efektif untuk mengubah status masyarakat dari miskin menjadi kaya.

BMA perlu merencanakan dengan baik program ZIS-CD, sehingga dapat dilaksanakan pada tahun 2018. Beberapa persiapan harus dilakukan segera misalnya konsultasi degan BAZNAS tentang Panduan ZIS-CD, studi kelayakan lokasi, pelatihan, rekrutmen pendamping, dan perencanaan biaya operasional.

Saya berharap, kita semua (baca: amil) berpikir progresif, sehingga ZIS yang kita kelola dapat berdampak terhadap perubahan status mustahik menjadi muzakki. Esensi ZIS adalah media problem solving terhadap masalah-masalah ummat, yang salah satu masalah berat kita hadapi di Aceh: penanggulangan kemiskinan. Sungguh tak mungkin kemiskinan berkurang hanya dengan bagi-bagi zakat.

Lampanah, 18 Nopember 2017/29  Shafar 1439


SAYEMBARA HIMNE ACEH

Sabtu, 18 November 2017 menjelang penutupan Sayembara Himne Aceh